Archive for August, 2007

Ahwalul Muslimin Al Yaum (Problematika Ummat Islam Hari Ini)

Tuesday, August 28th, 2007

Oleh : Ust. M Ihsan Arliansyah Tanjung

Hudzaifah.org - Tema ini adalah suatu upaya untuk menggambarkan akan keadaan

dunia Islam kontemporer (saat ini) dengan segala kelebihan dan

kekurangan-kekurangannya. Kondisi umat Islam saat ini penuh dengan

kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu terkait dengan kapasitas

intelektual dan problematika moral. Kelemahan dalam kapasitas intelektual

(Al Jahlu). Kelemahan umat Islam yang terkait dengan kapasitas intelektual

meliputi:

- Dho’fut Tarbiyah (lemah dalam pendidikan)
Kelemahan dalam aspek pendidikan formal dan informal (pengkaderan) sangat

dirasakan oleh umat Islam masa kini. Jika pendidikan juga pembinaan dan

pengkaderan lemah maka akan mustahil melahirkan anasir-anasir dalam nadhatul

umat (kebangkitan umat).

- Dho’fut Tsaqofah (lemah dalam ilmu pengetahuan)
Dewasa ini sedang sangat pesat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

tetapi umat Islam terasa tertinggal bila dibandingkan umat yang lainnya, ini

disebabkan karena wawasan umat Islam yang sempit dan terbatas juga lemah

dalam mengembangkan ilmu pengetahuan ini disebabkan kemauan umat untuk

menuntut ilmu sangat rendah.

- Dho’fut Takhthith (lemah dalam perencanaan-perencanaan)
Umat Islam sekarang ini tidak memiliki strategi yang jelas. Rencana

perjuangannya penuh dengan misteri. Hal tersebut disebabkan umat Islam tidak

diproduk dari pembinaan-pembinaan yang baik dan tidak memiliki wawasan ilmu

pengetahuan yang memadai.

- Dho’fut Tanjim (lemah dalam pengorganisasian)
Sekarang ini terjadi gerakan-gerakan yang mengibarkan bendera kebathilan,

mereka membangun pengorganisasian yang solid sementara umat Islam lemah

dalam pengorganisasian sehingga kebathilan akan di atas angin sedangkan umat

Islam akan menjadi pihak yang kalah. Sesuai perkataan khalifah Ali ra

"Kebenaran tanpa sistem yang baik akan dikalahkan oleh kebathilan yang

terorganisasi dengan baik".

- Dho’ful Amniyah (lemah dalam keamanan)
Masa kini umat Islam lengah dalam menjaga keamanan diri dan kekayaan baik

moril dan materil sehingga negeri-negeri muslim yang kaya akan sumber daya

alam dirampok oleh negeri-negeri non muslim. Begitu pula dengan Iman, umat

lslam tidak lagi menjaganya tidak ada amniyah pada aqidah dan dibiarkan

serbuan-serbuan aqidah datang tanpa ada proteksi yang memadai.

- Dho’fut Tanfidz (lemah dalam memobilisasi potensi-potensi diri)
Umat Islam dewasa ini tidak menyadari bahwa begitu banyak nikmat-nikmat yang

Allah SWT berikan dan tidak mensyukurinya. Jika umat Islam mersyukuri segala

nikmat Allah dari bentuk syukur itu akan muncul kuatut tanfidz yaitu

kekuatan untuk memobilisir diri dan sekarang umat Islam lemah sekali dalam

memobolisir diri apalagi memobilisir secara kolektifitas.

Kelemahan dalam problematika moral (Maradun Nafs)

Kelemahan-kelemahan dalam problematika moral yang terjadi pada umat Islam

sekarang yaitu:

• Adamus Saja’ah (hilangnya keberanian)
Umat Islam tidak seperti dahulu yang berprinsip laa marhuba illalah (tiada

yang ditakuti selain Allah) sehingga tidak memiliki keberanian seperti

orang-orang terdahulu yakni Rasulullah dan para sahabatnya yang terkenal

pemberani. Sekarang ini umat Islam mengalami penyakit Al Juban (pengecut).

Rasa takut dan berani itu berbanding terbalik sehingga jika seorang umat

Islam takut kepada Allah maka ia akan berani kepada selain Allah tetapi

sebaliknya jika ia takut kepada selain Allah maka ia akan berani menentang

aturan-aturan Allah SWT.

• Adamus Sabat (hilangnya sikap teguh pendirian)
Umat Islam mulai memperlihatkan mudah mengalami penyimpangan-penyimpangan

dan perjalanan hidupnya karena disebabkan oleh :

1. termakan oleh rayuan-rayuan
2. terserang oleh intimidasi atau teror-teror.

Salah satu illutrasi hilangnya sabat (keteguhan) ini adalah prinsif-prinsif

hidup kaum muslimin tidak lagi dipegang hanya sering diucapkan tanpa

dipraktekan. Sebagai contoh Islam mengajarkan kebersihan sebagian dari Iman

tetapi di negari-negeri kaum muslim kondisinya tidak bersih menjadi

pemandangan pada umumnya.

• Adamut Dzikriyah (hilangnya semangat untuk mengingat Allah)
Dalam Islam lupa diri sebab utamanya ialah karena lupa kepad Allah. Umat

Islam dzikirullah-nya lemah maka mereka kehilangan identitas mereka sendiri

sebagai Al Muslimum. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al Hasyr ayat 19

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah

menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang

yang fasik".

• Adamus Sabr (hilangnya kesabaran)
Kesabaran merupakan salah satu pertolongan yang paling pokok bagi

keberhasilan seorang muslim, sesuai firman Allah Qs.2:153 "Hai orang-orang

beriman mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan)

shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar".
Kesabaran meliputi:

1. Ashabru bitha’at (sabar dalam ketaatan)
2. Ashabru indal mushibah (ketaatan ketika tertimpa musibah)
3. Ashabru anil ma’siat (sabar ketika menghadapi maksiat)

Sebagai umat Islam harus memiliki kesabaran ketiganya.

• Adamul Ikhlas (hilangnya makna ikhlas)
Ikhlas tidak identik dengan tulus. Tulus artinya melakukan sesuatu tanpa

perasaan terpaksa padahal bisa saja orang itu ikhlas walaupun ada perasaan

terpaksa. Contohnya pada seseorang yang melakukan shalat subuh yang baru

saja jaga malam sehingga sanat terasa kantuk tetapi karena shalat adalah

suatu kewajiban perintah Allah swt ia tetap mengerjakannya dsb.

• Adamul Iltizam (hilangnya komitmen)
Dewasa ini kaum muslimin kebanyakan tidak istiqomah berkomitmen terhadap

Islam bahkan tidak sepenuhnya sadar bahwa Islam harus menjadi pengikat utama

dalam hidupnya sehingga mereka banyak menggunakan isme-isme yang lain. []

Sumber : pks.or.id

1st week

Wednesday, August 22nd, 2007

subhanallah…

minggu pertama yg luarbiasa. kerjaan menggunung tapi bner2 bisa termanage dgn baik. alhamdulillah ritme in ga pernah berhenti. habis UAS, ngurus PM bnetar, mengasingkan diri di Surabaya,pulang,dakwah kampus, kuliah,PM,PTI 1,apa lagi??

yup, apalagi sih yg kurang?

tulang rusukmu Dhi… :)

becoming great problemsolver

Wednesday, August 22nd, 2007

rMenjadi Seorang Problem Solver yang Profesional oleh Vincent Gasperz
(anggota IPOMS)

Oleh: Prof. Dr. Vincent Gaspersz, Certified Fellow in Production and
Inventory Management (CFPIM) and Six Sigma Black Belt.
Guru Besar di Trisakti dan konsultan di berbagai perusahaan.

Dalam setiap bidang kehidupan, kita harus menjadi seorang problem
solver yang profesional. Namun dalam kenyataan tidak banyak orang
yang berhasil, malahan mereka menjadi frustrasi dan kemudian
menyalahkan lingkungan atau faktor-faktor di luar pengendalian
(uncontrollable causes), yang pada akhirnya berakibat pada Stress
(lulus S1), lalu meningkat menjadi Stroke (lulus S2) dan pada
akhirnya mengakibatkan Stop—kematian (lulus S3), dari Universitas
Kehidupan!

Penulis selalu menggunakan pendekatan yang terdiri dari tiga langkah
untuk menyelesaikan masalah, dan dalam praktek terbukti ampuh! Dengan
demikian konsep problem solving ini bukan teori belaka, tetapi telah
terbukti keberhasilannya. Jika konsep ini diterapkan dan tidak
berhasil, maka kesalahan bukan pada konsep ini tetapi karena
ketidakprofesionalan semata dari orang yang menerapkan konsep ini.

Ketiga langkah tersebut adalah: (1) mengidentifikasi masalah secara
tepat, (2) menemukan sumber dan akar penyebab dari masalah itu, dan
(3) mengajukan solusi masalah secara efektif dan efisien.

Langkah Pertama: Mengidentifikasi Masalah Secara Tepat

Secara konseptual suatu masalah (M) didefinisikan sebagai
kesenjangan atau gap antara kinerja aktual (A) dan target kinerja (T)
yang diharapkan, sehingga secara simbolik dapat dituliskan persamaan:
M = T – A. Berdasarkan konsep ini, maka seorang problem solver yang
profesional harus terlebih dahulu mampu mengetahui berapa atau pada
tingkat mana kinerja aktual (A) pada saat ini, dan berapa atau pada
tingkat mana target kinerja (T) itu akan dicapai dan kapan harus
mencapai target kinerja (T) itu? Pada tahap awal ini, kita harus
mampu mendefinisikan secara tegas apa masalah utama (M Besar) kita,
kemudian menetapkan pada tingkat mana kinerja aktual (A) kita pada
saat sekarang, dan juga menetapkan target kinerja (T) dan kapan waktu
pencapaian target kinerja (T) itu?

Langkah Kedua: Menemukan Sumber dan Akar Penyebab dari Masalah

Suatu solusi masalah yang efektif adalah apabila kita berhasil
menemukan sumber-sumber dan akar-akar penyebab dari masalah itu,
kemudian mengambil tindakan untuk menghilangkan akar-akar penyebab
itu.

Untuk dapat menemukan akar penyebab dari suatu masalah, maka kita
perlu memahami dua prinsip yang berkaitan dengan hukum sebab-akibat,
yaitu:

1. Suatu akibat terjadi atau ada hanya jika penyebabnya itu ada
pada titik yang sama dalam ruang dan waktu.

2. Setiap akibat mempunyai paling sedikit dua penyebab dalam
bentuk: (a) penyebab yang dapat dikendalikan (controllable causes)
dan (b) penyebab yang tidak dapat dikendalikan (uncontrollable
causes). Penyebab yang dapat dikendalikan berarti penyebab itu berada
dalam lingkup tanggung jawab dan wewenang kita sehingga dapat diambil
tindakan (actionable) untuk menghilangkan penyebab itu. Sebaliknya
penyebab yang tidak dapat dikendalikan berada di luar pengendalian
kita. Penyebab yang tidak dapat dikendalikan (berada di luar kontrol
kita) terdiri dari paling sedikit dua penyebab, yaitu: (b1)
penyebab yang dapat diperkirakan (predictable causes) sehingga
memungkinkan kita untuk mengantisipasi dan mencegahnya, dan (b2)
penyebab yang tidak dapat diperkirakan karena belum ada referensi
atau pengetahuan tentang kejadian itu sebelumnya.

Hal yang paling penting agar mampu mencapai solusi masalah yang
efektif dan efisien adalah memahami prinsip ke-2 dari hukum sebab-
akibat di atas, yaitu bahwa setiap akibat memiliki paling sedikit dua
penyebab dalam bentuk (a) penyebab yang dapat dikendalikan
(controllable causes) dan (b) penyebab yang tidak dapat dikendalikan
(uncontrollable causes). Untuk setiap penyebab yang tidak dapat
dikendalikan (uncontrollable causes) akan terdapat lagi dua kategori
penyebab, yaitu: (b1) penyebab yang dapat diprediksi (predictable
causes) dan (b2) penyebab yang tidak dapat diprediksi sebelum
kejadian (unpredictable causes).

Prinsip ke-2 dalam hukum sebab-akibat di atas, mengajarkan
kepada kita bahwa setiap kali kita bertanya "Mengapa (Why)?", kita
seharusnya menemukan paling sedikit dua jenis penyebab di atas,
yaitu: (a) penyebab yang dapat dikendalikan, dan (b) penyebab yang
tidak dapat dikendalikan, selanjutnya untuk setiap penyebab yang
tidak dapat dikendalikan kita seharusnya mampu mengidentifikasi
apakah penyebab yang tidak dapat dikendalikan itu adalah (b1) dapat
diperkirakan atau diprediksi sebelum kejadian, dan (b2) tidak dapat
diprediksi atau diperkirakan sebelum kejadian.

Selanjutnya apabila kita mengumpulkan jawaban dari penyebab yang
dapat dikendalikan dan jawaban dari penyebab yang tidak dapat
dikendalikan namun dapat diperkirakan, maka dua tindakan solusi
masalah berikut dapat diambil, yaitu: (1) menghilangkan akar penyebab
yang dapat dikendalikan, dan (2) mengantisipasi melalui tindakan
pencegahan terhadap penyebab yang tidak dapat dikendalikan namun
dapat diperkirakan itu.

Selanjutnya akar-akar penyebab dari masalah yang ditemukan melalui
bertanya "Mengapa" beberapa kali itu dimasukkan ke dalam diagram
sebab-akibat yang telah mengkategorikan sumber-sumber penyebab
berdasarkan prinsip 7M, yaitu:

1. Manpower (tenaga kerja): berkaitan dengan kekurangan dalam
pengetahuan (tidak terlatih, tidak berpengalaman), kekurangan dalam
keterampilan dasar yang berkaitan dengan mental dan fisik, kelelahan,
stress, ketidakpedulian, dll.

2. Machines (mesin-mesin) dan peralatan: berkaitan dengan tidak
ada sistem perawatan preventif terhadap mesin-mesin produksi,
termasuk fasilitas dan peralatan lain, tidak sesuai dengan
spesifikasi tugas, tidak dikalibrasi, terlalu complicated, terlalu
panas, dll

3. Methods (metode kerja): berkaitan dengan tidak ada prosedur
dan metode kerja yang benar, tidak jelas, tidak diketahui, tidak
terstandardisasi, tidak cocok, dll.

4. Materials (bahan baku dan bahan penolong): berkaitan dengan
ketiadaan spesifikasi kualitas dari bahan baku dan bahan penolong
yang digunakan, ketidaksesuaian dengan spesifikasi kualitas bahan
baku dan bahan penolong yang ditetapkan, ketiadaan penanganan yang
efektif terhadap bahan baku dan bahan penolong itu, dll.

5. Media: berkaitan dengan tempat dan waktu kerja yang tidak
memperhatikan aspek-aspek kebersihan, kesehatan dan keselamatan
kerja, dan lingkungan kerja yang kondusif, kekurangan dalam lampu
penerangan, ventilasi yang buruk, kebisingan yang berlebihan, dll.

6. Motivation (motivasi): berkaitan dengan ketiadaan sikap kerja
yang benar dan profesional (tidak kreatif, bersikap reaktif, tidak
mampu bekerjasama dalam tim, dll), yang dalam hal ini disebabkan
oleh sistem balas jasa dan penghargaan yang tidak adil kepada tenaga
kerja.

7. Money (keuangan): berkaitan dengan ketiadaan dukungan
finasial (keuangan) yang mantap guna memperlancar peningkatan proses
menuju target kinerja yang telah ditetapkan itu.

Langkah Ketiga: Solusi Masalah Secara Efektif dan Efisien

Berdasarkan uraian di atas, maka kita dapat menyusun langkah-langkah
solusi masalah yang efektif dan efisien, yaitu:

1. Mendefinisikan masalah secara tertulis, yang berkaitan dengan
pertanyaan-pertanyaan berikut:

Apa (What): Apa yang menjadi Akibat Utama (Primary Effect) dari
masalah itu?
Bilamana (When): Kapan terjadi masalah itu, sewaktu-waktu atau
sepanjang waktu?
Di mana (Where): Di mana masalah itu terjadi, lokasi dalam sistem,
fasilitas, atau komponen?
Mengapa (Why): Mengapa Anda serius memperhatikan masalah ini,
berkaitan dengan signifikansi dampak dari masalah itu?

2. Membangun diagram sebab-akibat yang dimodifikasi untuk
mengidentifikasi: (a) akar penyebab dari masalah itu, dan (b)
penyebab-penyebab yang tidak dapat dikendalikan, namun dapat
diperkirakan.

3. Setiap akar penyebab dari masalah dimasukkan ke dalam diagram
sebab-akibat yang mengkategorikan berdasarkan prinsip 7M (Manpower—
tenaga kerja, Machines—mesin-mesin, Methods—metode kerja,
Materials—
bahan baku dan bahan penolong, Motivation—motivasi,
Media—lingkungan
dan waktu kerja, dan Money—dukungan finansial yang diberikan),
sedangkan penyebab-penyebab yang tidak dapat dikendalikan namun dapat
diperkirakan, didaftarkan pada diagram sebab-akibat itu secara
tersendiri.

4. Mengidentifikasi tindakan atau solusi yang efektif melalui
memperhatikan dan mempertimbangkan: (a) pencegahan terulang atau
muncul kembali penyebab-penyebab itu, (b) tindakan yang diambil harus
berada di bawah pengendalian kita, dan (c) memenuhi tujuan dan target
kinerja yang ditetapkan.

5. Menerapkan atau melakukan implementasi terhadap solusi atau
tindakan-tindakan yang diajukan itu. Setiap tindakan perbaikan atau
peningkatan kinerja seyogianya didaftarkan ke dalam rencana tindakan
(action plans) yang memuat secara jelas setiap tindakan perbaikan
atau peningkatan mengikuti prinsip 5W-2H (What—apa tindakan
peningkatan yang diajukan?, When—bilamana tindakan peningkatan itu
akan mulai diterapkan?, Where—di mana tindakan peningkatan itu akan
diterapkan?, Who—siapa yang akan bertanggungjawab terhadap
implementasi dari tindakan peningkatan itu?, Why—mengapa tindakan
peningkatan itu yang diprioritaskan untuk diterapkan?, How—bagaimana
langkah-langkah dalam penerapan tindakan peningkatan itu?, How Much—
berapa besar manfaat yang akan diterima dari implementasi tindakan
peningkatan itu dan berapa pula biaya yang harus dikeluarkan untuk
membiayai implementasi dari tindakan peningkatan itu).

Silakan mencoba konsep ini dalam praktek kerja Anda, jika masih GAGAL
agar menghubungi saya untuk berdiskusi, di mana letak kegagalan itu?

akhlak

Wednesday, August 22nd, 2007

Akhlak ialah bunga diri
Indah di lihat oleh mata
Senang di rasa oleh hati
Akhlak nilai diri manusia

Akhlak nilai diri manusia
Modal hidup di mana mana
Ke mana pergi orang suka
Banyak kenalan murah rizki

Siapa yang berakhlak tinggi
Ke mana pergi orang suka
Ia di sukai dan dipercayai
Kawan banyak di mana mana

Orang yang tiada akhlak
Harta banyak tiada nilai nya
Wajah nya yang cantik hilang serinya
Berpangkat tinggi pun orang benci

Sebaik baik manusia
Yang tinggi akhlaknya
Karena di sukai Allah
Dan juga rosul-Nya
Di senangi manusia seluruhnya
Akhlak mulia ibarat bunga

Album :
Munsyid : Umam
http://liriknasyid.com

manusia istimewa

Wednesday, August 22nd, 2007

Sahabat, Jika Anda disodorkan sebuah foto diri Anda dan teman-teman, siapa sosok yang pertama kali ingin Anda lihat? Sudah pasti gambar Anda sendiri, baru kemudian gambar teman-teman Anda. Iya ya, mungkin itu yang ada di benak Anda ketika hal di atas dikemukakan. Anda tak perlu heran, karena setiap kita adalah istimewa. Keistimewaan yang dimiliki setiap manusia itulah yang membuat setiap manusia juga merasa harus dipentingkan. Tidak hanya manusia dewasa, anak bayi pun sudah dibekali sifat ingin dipentingkan layaknya orang dewasa. Bayi memang tidak bisa bicara, tapi ia punya senjata yang sangat ampuh untuk mengekpresikan kekecewaan, dan juga meminta perhatian dari orang dewasa, yakni menangis. Coba saja Anda abaikan ajakan anak Anda atau keponakan Anda untuk bermain bersama, ia pasti akan merengek atau berteriak keras sambil menangis meminta Anda menuruti kehendaknya. Atau tatkala seorang anak kecil meminta Anda membelikan permen kesukaannya namun Anda tak menggubrisnya, kebanyakan anak-anak pasti menangis. Belum lah berhenti tangisnya sebelum Anda memberikan perhatian penuh kepadanya. Setiap manusia memiliki perasaan bahwa dia istimewa dan ingin dipentingkan, semestinya ini menjadi salah satu kunci sukses membina hubungan baik dengan orang lain. Salah satu prinsip inter-relationship yang harus dipegang kuat adalah menjaga agar seseorang tidak kehilangan perasaan istimewanya atau tetap membuat seseorang yakin bahwa ia bagian penting dari sesuatu. Dan kunci semua itu ada di dua indera yang Anda miliki, mata dan telinga! Manusia dianugerahkan dua telinga dengan satu mulut agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Upayakan untuk terlatih mendengar setiap pembicaraan orang lain hingga ia selesai berbicara, sementara disaat yang sama kita berupaya untuk menahan mulut ini berbicara, apakah itu menyela pembicaraan orang, atau bahkan meminta orang lain tak meneruskan bicaranya. Padahal ia belum tuntas menyampaikan ide dan gagasannya. Ini adalah salah satu cara efektif untuk tetap menjaga perasaan istimewa seseorang. Ia merasa bahwa dirinya dipentingkan ketika orang yang diajak bicara mendengarkan dengan seksama, penuh perhatian, pandangan yang serius dan tak menunjukkan sedikitpun rasa bosan. Berlatih lah untuk melakukan hal ini, maka Anda telah mendapatkan dirinya secara tidak langsung. Indikasinya, ketika Anda berbicara, maka ia akan melakukan hal yang sama dengan Anda, yakni menganggap bahwa Anda itu istimewa dan setiap pembicaraan Anda menjadi penting untuk didengarkan. Selain itu, usahakan berbicara sesuatu yang baik dengan cara yang baik pula, ini akan terdengar menyejukkan di telinga orang yang mendengarkan Anda. Dengan berbicara yang baik menggunakan cara yang baik, Anda juga telah membantu seseorang untuk merasa diperlakukan secara baik pula. Berusaha untuk berbicara yang baik dan disaat yang sama juga belajar untuk mendengarkan setiap pembicaraan lawan bicara dengan sabar dan penuh perhatian, tidak lah mudah. Perlu latihan dan kerja keras untuk bisa menerapkannya. Ini lah tantangannya, karena sifat dasar manusia itu sendiri yang merasa dirinya istimewa dan ingin dipentingkan sering memaksa Anda untuk ingin terus berbicara dan berharap orang lain mau mendengarkan, karena Anda merasa penting untuk didengarkan. Jadi, sesungguhnya amatlah berat menerapkan cara ini. Di satu sisi Anda ingin merasa tetap istimewa dan ingin dipentingkan, di sisi lain Anda harus menghargai perasaan istimewa dan ingin dipentingkan milik orang lain. Namun demikian, dengan kesabaran dan kesungguhan, Anda pasti bisa melakukannya. Satu tips tambahan, ketika Anda mencoba sabar menahan ego Anda untuk merasa istimewa dan dipentingkan, sementara Anda tetap menjaga perasaan istimewa dan ingin dipentingkannya orang lain, justru disitulah letak keistimewaan Anda. Ya, dengan demikian Anda benar-benar telah menjadi orang yang istimewa!

dari Hudzaifah.org thx to pa mahfudz

kepng hati..

Sunday, August 19th, 2007

keping hati berserak..

diantara dedaunan dan angin kering yang menemani…

biarkanlah pergi

menuju ke arahnya sendiri

di depan

sebuah penantian

sebuah penantian

menunggu

melekatkan lagi keping hati yang sudah lama tercerai..

panjat doa slalu

sahabat…

Monday, August 6th, 2007
Dua orang sahabat karib sedang
berjalan melintasi gurun pasir. Di
tengah perjalanan, mereka bertengkar,
dan salah seorang menampar temannya.
Orang yang kena tampar, merasa sakit
hati, tapi dengan tanpa berkata-kata,
dia

menulis di atas pasir :

HARI INI,
SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai
menemukan sebuah oasis, dimana mereka
memutuskan untuk mandi. Orang yang
pipinya kena tampar dan terluka
hatinya, mencoba berenang namun nyaris
tenggelam, dan berhasil diselamatkan
oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa
takutnya sudah hilang, dia menulis di
sebuah batu:

HARI INI, SAHABAT
TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya,
bertanya, "Kenapa setelah saya
melukai hatimu, kau menulisnya di atas
pasir, dan sekarang kamu menulis di
batu?" Temannya sambil tersenyum
menjawab, "Ketika seorang
sahabat melukai kita, kita harus
menulisnya di atas pasir agar angin
maaf datang berhembus dan menghapus
tulisan tersebut. Dan bila sesuatu
yang luar biasa terjadi, kita harus
memahatnya di atas batu hati kita,
agar tidak bisa hilang tertiup angin."

Cerita di atas, bagaimanapun tentu
saja lebih mudah dibaca dibanding
diterapkan. Begitu mudahnya kita
memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’
karena sakit hati atas sebuah
perbuatan atau perkataan yang menurut
kita keterlaluan hingga menyakiti hati
kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa
untuk merusak dibanding begitu banyak
kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini
memang bagian dari sifat buruk diri
kita.

Karena itu, seseorang pernah
memberitahu saya apa yang harus saya
lakukan ketika saya sakit hati. Beliau
mengatakan ketika sakit hati yang
paling penting adalah melihat apakah
memang orang yang menyakiti hati kita
itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.

Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat
orang untuk membalas dendam? Maka
sungguh sangat bisa jadi kita telah
melukai hatinya terlebih dahulu dan
dia menginginkan sakit yang sama
seperti yang dia rasakan. Bisa jadi
juga sakit hati kita karena kesalahan
kita sendiri yang salah dalam
menafsirkan perkataan atau perbuatan
teman kita. Bisa jadi kita tersinggung
oleh perkataan sahabat kita yang
dimaksudkannya sebagai gurauan.

Namun demikian, orang yang bijak akan
selalu mengajari muridnya untuk
memaafkan kesalahan-kesalahan
saudaranya yang lain. Tapi ini akan
sungguh sangat berat. Karena itu
beliau mengajari kami
untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada
Allah -yang begitu jelas dan pasti
mengetahui bagaimana sakit hati kita-
dengan membaca doa, "Ya Allah,
balaslah kebaikan siapapun yang telah
diberikannya kepada kami dengan
balasan yang jauh dari yang mereka
bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-
kesalahan saudara-saudara kami yang
pernah menyakiti hati kami."

Bukankah Rasulullah pernah
berkata, "Tiga hal di antara akhlak
ahli surga adalah memaafkan orang yang
telah menganiayamu, memberi kepada
orang yang mengharamkanmu, dan berbuat
baik kepada orang yang berbuat buruk
kepadamu".

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin
aku pernah menyakiti hatimu dan kau
tidak membalas, dan mungkin juga kau
menyakiti hatiku karena aku pernah
menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku
berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku
takutkan kalian tidak mau memaafkan.
Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-
dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit
kedua sisi tulang rusukku hingga
menyesakkan dada.
Saudara-saudaraku, jika kalian tidak
sanggup mendoakan aku agar aku ‘ada’
di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala
kesalahan-kesalahan ku. Tolong jangan
kau tambahkan kehinaan pada diriku
dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa
aku telah menyakiti hatimu.

Saturday, August 4th, 2007

akhirnya di Bandung

kerjaan menggunung…
dingin menggigil di kala malam
panas keringat di kala siang
penuh macet dan peluh

Bandung, inikah dirimu?